Kamis, 29 Desember 2016

PENGORBANAN


Suasana malam hari itu diwarnai dengan gemerlap lampu-lampu, tidak ada satupun bintang di langit yang menampakkan cahaya nya. Terasa hembusan angin malam yang merasuk hingga kedalam hati. Ditambah langit yang mendung layak nya ingin menjatuhkan air hujan.

Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar dan seluruh tubuhnya dingin. "Arjuna...Arjuna..Arjuna" Tiba tiba ia seperti memanggil sebuah nama dengan merintih pelan. Wanita muda itu memanggil kekasihnya. Wanita muda itu adalah kakakku. Dia bernama Mayang. Umurnya hampir mencapai kepala dua.

"Apa yang terjadi ? mengapa bisa terjadi ? apa penyebab dari kejadian ini?" Aku bertanya-tanya dalam hati.
Di luar kamar terlihat seorang pria berjalan dengan cepat menuju kamar kakakku. Rupanya dia adalah Arjuna, kekasih kakakku. Arjuna baru saja akan berangkat ke Surabaya untuk kuliah tetapi mamaku menelfon nya karena kakakku terus memanggil namanya.

"Syukurlah kamu sudah datang, nak." sapa mama
"Iya te, untung saja pesawat yang aku tumpangi delay jadi aku segera kesini." kata Arjuna
"Cepat kamu temui mayang dahulu, mama tidak tega dengan keadaan nya."

Dia membuka perlahan pintu kamar .Arjuna kaget dengan keadaan Mayang yang lemah tak berdaya. Dia duduk disamping tempat tidurnya. Dia lalu memegang tangan nya dengan erat dan membelai wajahnya serta mencium keningnya. Mayang pun membuka matanya dan sangat senang bahwa Arjuna datang.

"Aku disini, kamu jangan khawatir"
"Ar, jangan jauh dariku.."
"Aku selalu disampingmu,mayang. Apa kamu mau aku antarkan ke rumah sakit?"
"Tidak, terimakasih. Maaf aku sudah membuatmu khawatir. Seharusnya kamu sudah di Surabaya."
"Aku tidak tenang kalau aku berangkat ke Surabaya tanpa melihat keadaanmu dahulu."

Saat aku mengintip mereka berdua dari sela sela pintu, pertanyaan dalam hatiku sudah terjawab dengan kehadiran Arjuna, kekasih kakakku. Kakakku sangat sedih memikirkan kekasihnya yang akan jauh darinya sampai dia pingsan karena menangis tersedu-sedu. Setelah lama berbincang, Aruna berpamitan kepada Mayang dan memeluknya.
"Aku pergi, aku akan kembali lagi"
"Jaga dirimu ar.."

Kakakku menangis melepaskan genggaman Arjuna.




1 komentar:

  1. Bandingankan dengan koreksi saya di bawah ini!
    PENGORBANAN

    Suasana malam hari itu diwarnai dengan gemerlap lampu-lampu. Tidak ada satu pun bintang di langit yang menampakkan cahayanya. Terasa hembusan angin malam yang merasuk hingga ke dalam hati. Ditambah langit yang mendung layaknya ingin menjatuhkan air hujan.

    Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar dan seluruh tubuhnya dingin. "Arjuna...Arjuna..Arjuna." Tiba tiba ia seperti memanggil sebuah nama dengan merintih pelan. Wanita muda itu memanggil kekasihnya. Wanita muda itu adalah kakakku. Dia bernama Mayang. Umurnya hampir mencapai kepala dua.

    "Apa yang terjadi? Mengapa bisa terjadi? Apa penyebab dari kejadian ini? " aku bertanya-tanya dalam hati.
    Di luar kamar terlihat seorang pria berjalan dengan cepat menuju kamar kakakku. Rupanya dia adalah Arjuna, kekasih kakakku. Arjuna baru saja akan berangkat ke Surabaya untuk kuliah tetapi, mamaku meneleponnya karena kakakku terus memanggil namanya.

    "Syukurlah kamu sudah datang, Nak," sapa mama.
    "Iya Te, untung saja pesawat yang aku tumpangi delay jadi aku segera kesini, " kata Arjuna.
    "Cepat kamu temui Mayang dahulu, mama tidak tega dengan keadaannya."

    Dia membuka perlahan pintu kamar. Arjuna kaget dengan keadaan Mayang yang lemah tak berdaya. Dia duduk di samping tempat tidurnya. Dia lalu memegang tangannya dengan erat dan membelai wajahnya serta mencium keningnya. Mayang pun membuka matanya dan sangat senang bahwa Arjuna datang.
    (Wow! Menikah belum sudah pegang tangan, mencium??)

    "Aku di sini, kamu jangan khawatir"
    "Ar, jangan jauh dariku.."
    "Aku selalu di sampingmu, Mayang. Apa kamu mau aku antarkan ke rumah sakit?"
    "Tidak, terima kasih. Maaf aku sudah membuatmu khawatir. Seharusnya kamu sudah di Surabaya."
    "Aku tidak tenang kalau aku berangkat ke Surabaya tanpa melihat keadaanmu dahulu."

    Saat aku mengintip mereka berdua dari sela sela pintu, pertanyaan dalam hatiku sudah terjawab dengan kehadiran Arjuna, kekasih kakakku. Kakakku sangat sedih memikirkan kekasihnya yang akan jauh darinya sampai dia pingsan karena menangis tersedu-sedu. Setelah lama berbincang, Aruna berpamitan kepada Mayang dan memeluknya.
    "Aku pergi, aku akan kembali lagi"
    "Jaga dirimu Ar.. ."

    Kakakku menangis melepaskan genggaman Arjuna.

    BalasHapus